Selasa, 08 Januari 2008

EDISI 1 - AGUSTUS 2007

ALLAH MAHA MELIHAT

“...dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya dan tak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.” (QS. Al-An’am [6]: 59)

ADA seorang lelaki mendatangi Ibrahim ibn Adham. Ia berkata, “Wahai Imam, saya ingin bertaubat dan meninggalkan seluruh dosa yang aku miliki. Jika suatu saat aku kembali melakukannya, tunjukkanlah kepadaku kiat yang dapat menghindarkanku bermaksiat kepada Allah.
Ibrahim ibn Adham menjawab, “Jika Anda ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah melakukannya di atas buminya.”
Maka lelaki itu bertanya, “Di manakah saya dapat bermaksiat terhadap-Nya?”
“Di luar bumi-Nya,” jawab Ibrahim ibn Adham.
“Wahai Imam, bagaimana hal itu bisa terjadi, sedangkan bola bumi ini dalam genggaman-Nya?” tanya lelaki itu.
“Tidakkah engkau malu, Anda tahu bahwa bumi ini dalam genggaman-Nya namun engkau bermaksiat terhadap-Nya?” jawab Ibrahim ibn Adham.
Kemudian Ibrahim ibn Adham berkata, “Jika Anda ingin bermaksiat terhadap-Nya, maka janganlah Anda memakan rezeki-Nya.”
Lalu lelaki itu bertanya, “Bagaimanakah saya dapat hidup?”
“Tidakkah Anda malu memakan rezeki-Nya sedangkan Anda bermaksiat kepada-Nya?”
Kemudian Ibrahim melanjutkan perkataannya, “Jika Anda bersikeras akan melakukan maksiat, maka lakukanlah di tempat Allah tidak akan melihat Anda.”
Lalu lelaki itu bertanya, “Bagaimana bisa seperti itu, padahal Dia selalu bersama kita, di mana pun kita berada?”
Ibrahim ibn Adham menjawab, “Tidakkah Anda malu bermaksiat kepada-Nya sedangkan Dia lebih dekat dengan Anda?”
“Jika Anda bersikeras bermaksiat kepada-Nya, maka jika malaikat maut datang untuk mencabut nyawa Anda, katakanlah kepadanya, ‘Tunggulah sebentar sampai aku bertaubat’!” kata Ibrahim ibn Adham.
“Siapa yang memiliki kekuasaan untuk menunda kematian seperti itu!?” kata lelaki itu.
“Tidakkah Anda malu, saat malaikat maut datang Anda dalam keadaan melakukan maksiat?”
Kemudian ia melanjutkan perkataannya, “Jika Anda enggan berhenti bermaksiat kepada Allah, kemudian tiba-tiba datang malaikat Zabaniyah menyeret Anda masuk neraka, katakanlah kepada mereka bahwa Anda tidak akan pergi bersama mereka!”
“Bagaimana mungkin saya bisa seperti itu?” tanya lelaki itu.
“Tidakkah Anda malu untuk bermaksiat setelah mendengar semua penjelasan ini!?” Demikian perkataan Ibrahim ibn Adham mengakhiri nasihatnya. (Berakhlak Seindah Rasulullah, Amru Khalid, Pustaka Nuun, Semarang, 2007)
Setelah membaca dialog di atas, bagaimanakah sikap kita. Cobalah kita posisikan diri kita sebagai lelaki tersebut. Akankah kita terus bermaksiat kepada Allah yang senantiasa melihat kita? Akankah kita bermaksiat kepada-Nya yang telah mencukupi segala kebutuhan kita dengan rezeki-Nya? Apakah kita tidak malu kepada malaikat pencatat amal ketika kita berbuat maksiat?[](hilya_ar)

DIALOG
Haruskah shalat Jum’at 40 orang...?

Tanya:
Saya pernah mendengar bahwa salah satu syarat syahnya shalat jumat adalah jumlah jamaah minimal harus 40 orang. Yang saya tanyakan bagaimana jika shalat Jumat tidak memenuhi syarat tersebut? (Nasoha, 085225808xxx)

Jawab:
Menyangkut jumlah atau bilangan jamaah shalat Jum’at tidak ada satu pun hadits yang menentukan jumlah tertentu. Jadi shalat Jum’at tetap sah dilakukan oleh dua atau tiga orang saja dan bagi yang telah melaksanakan syariat shalat Jum’at ini sudah tidak berkewajiban melaksanakan shalat Zhuhur.
Orang yang tidak sempat mengikuti jamaah Jum’at baik seluruh atau sebagiannya, atau orang yang berhalangan hadir berjamaah di masjid baik karena sakit atau sebab lain, demikian juga kaum perempuan yang yang tidak wajib hadir berjamaah di masjid, harus bersembahyang Jum’at baik bersama-sama atau sendiri-sendiri. Yang terakhir terkait shalat Jum’at, berjamaah dan khutbah bukan merupakan rukun atau syarat sah shalat Jum’at.
Wallahu a’lam.
Keterangan selengkapnya dapat Anda baca dalam Pedoman Shalat, karya Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. ?[](hilya_ar)

Tidak ada komentar: