TANGGAL 1 SYAWAL: MUHASABAH (INTROSPEKSI) PASCA RAMADHAN UNTUK PERBAIKAN SATU TAHUN KE DEPAN
Oleh: Sulaiman al-Kumayi, M.Ag (Kandidat Doktor Islamic Studies IAIN Walisongo Semarang)
Saat 1 Syawal tiba, itu pertanda kemenangan hakiki bagi orang-orang mukmin yang melaksanakan ibadah puasa dan amal-amal lainnya selama bulan Ramadhan. Bahkan, predikat muttaqîn (orang-orang yang bertakwa) diperolehnya pada saat itu sesuai dengan tujuan utama berpuasa di bulan Ramadhan (baca: QS. Al-Baqarah [2]: 183). Sebuah predikat tertinggi yang diberikan langsung oleh Allah. Melalui predikat ini akan tumbuh kesadaran dalam diri manusia tentang kehadiran Allah dalam hidupnya. Sehingga, kapan pun dan di mana pun berada ia selalu merasa diawasi oleh Allah.
Dalam Tafsir An-Nuur (karya Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy) dijelaskan bahwa orang-orang beriman selama bulan Ramadhan dibiasakan takut akan Allah baik secara rahasia maupun terang-terangan. Orang yang berpuasa tak ada yang memata-matai selain Allah. Apabila ia meninggalkan keinginan-keinginan nafsunya, yakni makan yang sedap, minum yang lezat, istri yang mengikat hati, semata-mata karena menuruti perintah Tuhannya dan tunduk kepada petunjuk agama.
Rasa takut kepada Allah inilah seharusnya yang menjadi pegangan dalam hidup kita. Pegangan yang dapat memotivasi seseorang untuk selalu berbuat yang terbaik dalam hidupnya. Berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain. Ia sangat takut untuk berbuat sesuatu yang dilarang oleh Allah. Karena ia sadar sekecil apa pun kebaikan atau keburukan yang dilakukannya pasti akan menerima ganjarannya. Firman Tuhannya: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun [sekecil partikel], niscaya ia akan melihat [balasan]nya; dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat [balasan]nya pula.” (QS. Al-Zalzalah [99]: 7-8), betul-betul selalu diingatnya bersamaan dengan keluar masuk nafasnya. Karena itu, ia berusaha sekuat tenaganya hanya untuk beramal kebajikan selama hidupnya dan tidak pernah bermain-main dengan kemaksiatan. Ini ia lakukan semata-mata karena takut amal-amalnya ditolak oleh Allah.
Dalam buku Pedoman Puasa, karya Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, disebutkan bagaimana ulama-ulama salaf terdahulu sangat takut kepada Allah. Mereka takut amal-amal mereka ditolak oleh Allah. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa beliau berkata, “Hendaklah kamu, lebih memperhatikan diterimanya ibadah-ibadah (amal-amal)mu daripada terhadap pelaksanaan amal ibadah itu sendiri. Apakah kamu tidak mendengar firman Allah, “Sesungguhnya Allah hanya menerima amal ibadat dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah [5]: 27)
Diriwayatkan dari Fadhalah bin `Ubaid, katanya, “Aku mengetahui bahwa Allah telah menerima amalku sebesar biji sawi lebih aku sukai daripada diberikan dunia dan isinya kepadaku karena Allah telah berfirman, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima amal ibadat dari orang-orang yang bertakwa.’”
Kata Ibnu Dinar, “Takut kepada tidak diterimanya amal ibadat kita di sisi Allah, hendaklah lebih kuat daripada takut tidak dapat beramal.”
Meneladani kekhawatiran para ulama salaf di atas, bulan Ramadhan kemarin seharusnya menjadi tempat pelatihan ruhani (spiritual training, riyadhah ruhaniah) bagi kita untuk mempersiapkan diri menapaki hidup selanjutnya. Hidup yang betul-betul berbeda dari sebelumnya. Hari-hari selalu dijalani dengan semangat Ramadhan. Semangat yang selalu berisi keinginan untuk melakukan ibadah dengan ikhlas; shalat malam setiap malam. Semangat untuk tidak mengisi perut ini dengan makanan-makanan yang tidak halal. Semangat untuk menjaga hati dan pikiran dari hal-hal yang dapat merusak kesucian.
Mari kita renungkan bersama: setelah sebulan lamanya kita berusaha mendekatkan diri kepada Allah, setelah kita mengurangi makan dan tidur untuk menaati ketentuan dan petunjuk Allah, kita akan diuji sampai Ramadhan yang akan datang. Apakah kita termasuk hamba-hamba Allah yang setia mengikuti ketentuan dan petunjuk-Nya, sehingga sedikit demi sedikit kita naik ke maqam yang lebih tinggi, setapak demi setapak kita mendekati Allah yang Mahamulia. Ataukah ruhani kita yang indah yang tumbuh subur di bulan Ramadhan yang dilukiskan Al-Quran seperti al-mar`a, rerumputan yang hijau, akan berubah menjadi ghutsa`an ahwa, sampah yang hitam? Hanya kepada Allah kita menggantungkan harapan. [h-ar]
DIALOG
BOLEHKAH MENGQADHA PUASA SAMPAI BULAN SYA’BAN TAHUN YANG AKAN DATANG?
Tanya:
“Bolehkah mengqadha puasa Ramadhan sampai bulan Sya’ban tahun depan?” (Abdullah, Lhok Sukon)
Jawab:
Dalam sebuah hadits, Aisyah mengatakan: “Saya mempunyai hutang puasa Ramadan. Saya belum sanggup mengqadhanya, kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena kesibukkannya dalam mengurusi kebutuhan Rasulullah, Aisyah baru sempat mengqadhanya pada bulan Sya’ban (1 bulan sebelum Ramadhan) tahun berikutnya.
Demikian yang terjadi pada Aisyah, bagaimanakah batasan waktu kita mengqadha puasa Ramadhan?
Abu Hanifah, Malik dan Asy-Syafi’i serta Ahmad berpendapat bahwasanya qadha Ramadhan terhadap orang yang berbuka (tidak berpuasa) lantaran uzur seperti haid, boleh ditelatkan, tidak harus disegerakan. Tetapi tidak diboleh dilambatkan dari bulan Sya’ban.
Daud mewajibkan kita bersegera mengqadha puasa Ramadhan pada hari pertama sesudah Ied (2 Syawal). Ulama Syafi’iyah mewajibkan qadha dengan segera apabila kita berbuka (tidak berpuasa) tanpa uzur.
Intinya, kita boleh mengqadha Ramadhan yang kita tinggalkan karena uzur kapan kita inginkan asal belum sampai Ramadhan berikutnya.
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa berbuka pada sehari di bulan Ramadhan dengan tidak ada uzur dan tidak sakit, niscaya tidaklah dapat diqadhai puasanya oleh puasa sepanjang masa walaupun ia melakukannya.”
Keterangan selengkapnya dapat Anda baca pada Mutiara Hadits jilid 4 dan Pedoman Puasa, karya Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy.
HIKMAH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar