RAMADHAN adalah bulan penuh berkah atau kebaikan. Amalan sunnah apabila dilaksanakan dengan ikhlas, akan diberi pahala seperti pahala wajib, dan amalan wajib akan diberi pahala berlipat.
Amal kebajikan apakah yang seyogianya kita laksanakan pada bulan Ramadhan?
Banyak amalan yang dapat kita laksanakan, di antaranya:
Pertama, banyak bersedekah. Banyak bersedekah atau berbuat ihsan kepada fakir miskin, anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan, baik di bulan Ramadhan atau selainnya, dalam bahasa syari’at disebut al-jud. Allah disifatkan dengan Jud Jawad karena sangat banyak pemberian-Nya dan Mahaluas anugerah-Nya.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah sangat banyak pemberian-Nya, menyukai banyak memberi, lagi Maha Pemurah, menyukai kemurahan tangan.” (Latha’if Al-Ma’arif: 173)
Kedua, memperbanyak tilawah Al-Qur’an dan mentadaruskannya (mengkajinya).
Ramadhan adalah bulan yang mulia karena dalam bulan tersebut Al-Qur’an diturunkan sebagai kitab yang terakhir untuk mensucikan akidah dan jiwa para hamba.
Al-Qur’an juga merupakan dzikir dan doa. Sebagai sarana memohon kebajikan, rahmat dan ampunan Allah.
Membaca Al-Qur’an yang baik adalah dengan memperhatikan adab-adabnya. Menurut Al-Ghazali, adab-adab tersebut adalah:
1. Khusyuk (hadir hati).
2. Memahami kebesaran dan ketinggian Al-Qur’an sebagai Kalamullah, keutamaan Allah dan kemurahan-Nya.
3. Membesarkan Dzat Allah di kala membaca Al-Qur’an.
4. Mentadabburkan Al-Qur’an. Harus disertai dengan memikirkan dan memahami apa yang kita baca, serta tartil.
5. Melepaskan diri dari segala hal yang menghalangi untuk memahami Al-Qur’an.
6. Setiap perintah Allah yang kita baca kita anggap dihadapkan kepada kita, merasa kitalah yang diperintah, diancam dan diberi kabar gembira.
7. Merasa berkesan dengan apa yang kita baca. Merasa takut ketika membaca ayat takhwif dan merasa gembira ketika membaca ayat tabsyir.
8. Hendaklah kita berusaha merasa bahwa suara bacaan yang kita dengar, seolah-olah langsung kita dengar dari Allah.
Ketiga, melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih).
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa berqiyam di bulan Ramadhan karena iman kepada Allah dan karena mengharap pahala dan ampunan serta ridha-Nya, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim, At-Targhib, 2: 214)
Keempat, mengerjakan umrah. Banyak hadits Nabi yang menyatakan keutamaan umrah di bulan Ramadhan, di antaranya: “Sesungguhnya mengerjakan umrah di bulan Ramadhan, mengimbangi (setara) dengan sekali haji atau sekali haji bersamaku.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Hal ini memberi pengertian bahwa mengerjakan umrah di bulan Ramadhan sangat besar pahalanya. Namun demikian, tidak memberi pengertian bahwa umrah tersebut menggugurkan perintah haji.
Kelima, mengeluarkan sedekah fithri (zakat fitrah/makanan pokok) yang diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan untuk mensucikan diri dan menambal kekurangan-kekurangan yang mungkin terjadi pada puasanya dan sebagai perwujudan bagi kesempurnaan puasa dan kasih sayang kepada fakir miskin.
Disebut zakat fithri adalah karena telah menyelesaikan puasa (fithr, ifthar= berbuka). Demikian pula disebut Idul Fithri, makna asalnya hari raya berbuka, atau kembali makan.
Keenam, Mengerjakan shalat Idul Fithri dan meghidupkan malam hari raya tersebut dengan banyak berdzikir, takbir, doa dan istighfar.
Semoga Allah menerima puasa dan segala amal ibadah kita. Allahumma taqabbal minna shiyamana wa jami’a ‘ibadatina.
[hilya_ar]
DIALOG
BERAPAKAH RAKAAT SHALAT TARAWIH YANG DIAJARKAN OLEH NABI?
Tanya:
“Berapakah jumlah rakaat shalat Tarawih yang diajarkan oleh Rasulullah? (Abdullah, Lhokseumawe)
Jawab:
Rasulullah mengerjakan shalat Tarawih sebanyak delapan rakaat. Sesudah mengerjakan Tarawih, beliau mencukupkannya sebelas rakaat dengan witir.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwasanya Aisyah berkata: “Bahwasanya Rasulullah tidak pernah melebihi di bulan Ramadhan dan bulan selain Ramadhan sebelas rakaat.”
Adapun riwayat Abed ibn Humaid dan Ath-Thabrani dari Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah melakukan shalat di bulan Ramadhan dua puluh rakaat dan witir adalah dhaif (lemah). Karena riwayat tersebut diterima dari Abi Syaibah Ibrahim ibn Utsman. Abi Syaibah dinyatakan lemah oleh Ahmad, Ibnu Mu’in, Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan lain-lain.
Keterangan selengkapnya dapat Anda baca dalam Pedoman Puasa, karya Tgk. M. Hasbi Ash-Shiddieqy.
HIKMAH
Salah satu hikmah atau essensi puasa adalah untuk menghidupkan kekuatan pikir dan pandangan mata hati (bashirah). Lukman berkata kepada anaknya, “Hai anakku, apabila perutmu telah penuh sesak oleh makanan, maka tidurlah pikiranmu, kelulah hikmah dan berhentilah seluruh anggota badanmu untuk beribadah kepada Allah dan hilanglah kebersihan hati (jiwa) dan kehalusan pikiran, yang hanya dengan keduanyalah dapat diperoleh nikmat bermunajat kepada Allah dan berbekasnya dzikir pada jiwa. (Asrararusy Syari’ah, 1: 136)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar